Sejarah Desa Dukuh Juwet Alias Dulwates
Dulwates,
kepanjangannya adalah kidul wates (kidul=selatan, wates=batas,
Dulwates=batas selatan) orang-orang tua sering menyebutnya demikian
karena desa ini menjadi perbatasan antara dua desa, yakni Desa Dukuh
Waringin dan Desa Tergo. Sebenarnya Dulwates bukanlah sebuah desa, namun
hanya sebuah perdukuhan yang bergabung dengan desa Tergo. Dulwates
terbentang mulai dari sebelah selatan jalan ke Desa Gono yang menjadi
batas antara Dulwates dengan Desa Dukuh Waringin, sampai pada Later Es,
yakni jalan menanjak yang berkelok membentuk huruf ‘S’ yang menjadi
batas antara Dulwates dengan desa Tergo Lor. Terus kenapa bisa
mendapatkan nama Dukuh Juwet?? Berikut kisah yang telah turun temurun
disampaikan oleh kakek saya yang mungkin tidak banyak yang
mengetahuinya…
Konon
pada zaman dahulu waktu desa ini masih berupa hutan belantara,
tumbuhlah sebatang pohon Juwet yang besar sekali dan sangat tua,
sebagai mana kebiasaan orang tua zaman dahulu, untuk menandai nama suatu
desa atau tempat, disandarkan pada suatu kejadian atau benda mati yang
dianggap keramat. Seperti nama sungai yang sekarang menjadi perbatasan
Dulwates dengan Dukuh Waringin, dinamakan Kali Tempur, konon karena dulu
disana telah menjadi tempat pertempuran. Itulah yang menjadi cikal
bakal dinamakannya Desa Dukuh Juwet, kira-kira pohon tersebut tumbuh
tepatnya di perempatan deket rumahnya Pak Sholeh (sekarang).
Disana
hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua renta. Dahulu Dukuh Juwet
masih ikut desa Dukuh Waringin, yang mana kepala desa Dukuh Waringin dan
kepala desa Tergo adalah saudara kandung. Suatu ketika sang kakek
meninggal dunia, dari sinilah perselisihan mulai muncul. Kedua desa
tersebut –Dukuh Waringin dan Tergo- sama-sama tidak mau mengubur jenazah
sang kakek. Akhirnya diambil kesepakatan Dukuh Waringin mau menguburkan
jenazah sang kakek asalkan Dul Watez harus ikut Desa Tergo. Dari
sinilah kenapa status Dulwatez bisa ikut Tergo.
Oleh
karena itu setiap ada acara mantenan, khitanan, atau hajat-hajat yang
lain ngirim doanya harus ke leluhur kedua Desa tersebut yakni Desa Dukuh
Waringin (Mbah Gongso dan Mbah Wandan Sari) dan Desa Tergo (Mbah Baris
dan Mbah Kodi Weryo).
N/B: sumber ini diambil langsung dari cerita kakek saya semasa beliau masih sugeng, yakni Alm. Mbah Kusnin Ma’sum.
Namun jika ada versi yang lain harap segera di confirm. Supaya kita
tahu sejarah desa yang kita tinggali selama ini, desa yang menjadi
tempat tumpah darah kita. Nguri-nguri sejarah jawa.
wa ch..
BalasHapuswaaah uga.. Hehehe
Hapusok ok ok okm
BalasHapuskeren juga ceritanya
BalasHapusgood
BalasHapusok
BalasHapusojjhhg
BalasHapusbagus,,,
BalasHapus