Sabtu, 07 September 2013

sejarah dukuh juwet

Sejarah Desa Dukuh Juwet Alias Dulwates

Dulwates, kepanjangannya adalah kidul wates (kidul=selatan, wates=batas, Dulwates=batas selatan) orang-orang tua sering menyebutnya demikian karena desa ini menjadi perbatasan antara dua desa, yakni Desa Dukuh Waringin dan Desa Tergo. Sebenarnya Dulwates bukanlah sebuah desa, namun hanya sebuah perdukuhan yang bergabung dengan desa Tergo. Dulwates terbentang mulai dari sebelah selatan jalan ke Desa Gono yang menjadi batas antara Dulwates dengan Desa Dukuh Waringin, sampai pada Later Es, yakni jalan menanjak yang berkelok membentuk huruf ‘S’ yang menjadi batas antara Dulwates dengan desa Tergo Lor. Terus kenapa bisa mendapatkan nama Dukuh Juwet?? Berikut kisah yang telah turun temurun disampaikan oleh kakek saya yang mungkin tidak banyak yang mengetahuinya…
Konon pada zaman dahulu waktu desa ini masih berupa hutan belantara, tumbuhlah sebatang  pohon Juwet yang besar sekali dan sangat tua, sebagai mana kebiasaan orang tua zaman dahulu, untuk menandai nama suatu desa atau tempat, disandarkan pada suatu kejadian atau benda mati yang dianggap keramat. Seperti nama sungai yang sekarang menjadi perbatasan Dulwates dengan Dukuh Waringin, dinamakan Kali Tempur, konon karena dulu disana telah menjadi tempat pertempuran. Itulah yang menjadi cikal bakal dinamakannya Desa Dukuh Juwet, kira-kira pohon tersebut tumbuh tepatnya di perempatan deket rumahnya Pak Sholeh (sekarang).
Disana hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua renta. Dahulu Dukuh Juwet masih ikut desa Dukuh Waringin, yang mana kepala desa Dukuh Waringin dan kepala desa Tergo adalah saudara kandung. Suatu ketika sang kakek meninggal dunia, dari sinilah perselisihan mulai muncul. Kedua desa tersebut –Dukuh Waringin dan Tergo- sama-sama tidak mau mengubur jenazah sang kakek. Akhirnya diambil kesepakatan Dukuh Waringin mau menguburkan jenazah sang kakek asalkan Dul Watez harus ikut Desa Tergo. Dari sinilah kenapa status Dulwatez bisa ikut Tergo.
Oleh karena itu setiap ada acara mantenan, khitanan, atau hajat-hajat yang lain ngirim doanya harus ke leluhur kedua Desa tersebut yakni Desa Dukuh Waringin (Mbah Gongso dan Mbah Wandan Sari) dan Desa Tergo (Mbah Baris dan Mbah Kodi Weryo).
N/B: sumber ini diambil langsung dari cerita kakek saya semasa beliau masih sugeng, yakni Alm. Mbah Kusnin Ma’sum. Namun jika ada versi yang lain harap segera di confirm. Supaya kita tahu sejarah desa yang kita tinggali selama ini, desa yang menjadi tempat tumpah darah kita. Nguri-nguri sejarah jawa.

8 komentar: